Rabu, 12 Februari 2014

Dukungan Psikososial Pasca Bencana

“Indonesia Supermarket Bencana” pernyataan semacam ini memang pantas rasanya diucapkan melihat rentetan bencana yang terjadi di Indonesia. Seakan tidak pernah lepas dari bencana mulai banjir, gempa bumi, tanah longsor, angin puting beliung, serta tsunami yang terjadi di Indonesia. Disamping mengakibatkan kerugian harta benda juga menimbulkan korban jiwa yang cukup besar. Ribuan orang meninggal dunia, banyak korban yang selamat menderita sakit dan cacat. Bahkan korban juga mengalami dampak psikologis akibat bencana, seperti perasaan mati rasa secara emosional, ketakutan yang berlebihan, kecemasan dan kesedihan yang mendalam. Bagi sebagian penyintas (orang yang mampu bertahan hidup), dampak ini akan memudar seiring berjalannya waktu. Tapi beberapa penyintas mengalami hal berbeda, bencana memberikan dampak psikologis  jangka panjang, baik yang terlihat jelas misalnya depresi , psikosomatis  (keluhan fisik yang diakibatkan oleh masalah psikis) ataupun yang tidak langsung seperti sulit berbaur dengan masyarakat, lebih temperamen , cenderung lebih agresif dan lain sebagainya.

Dampak negatif dari bencana yang mencakup dampak psikologis dan sosial, biasa disebut psikososial. Psikososial berasal dari gabungan dua kata, psiko dan sosial. Kata “Psiko” mengacu pada aspek psikologis dari individu (pikiran, perasaan dan perilaku), sedangkan “Sosial” mengacu pada hubungan eksternal individu dengan orangorang lain di lingkungannya. Berdasarkan asal katanya Psikososial merujuk pada hubungan yang dinamis antara faktor psikologis dan sosial, yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Dengan demikian, secara sederhana Dukungan Psikososial dapat diartikan sebagai kegiatan berstruktur yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikososial dengan memperhatikan hubungan dinamis antara faktor psikologi dan sosial, dimana masingmasing saling berinteraksi dan mempengaruhi secara berkelanjutan.
Aspek psikososial sebagai salah satu dampak bencana mulai mendapatkan perhatian dan penanganan dari pemerintah, masyarakat, serta lembaga-lembaga yang bekerja dalam isu penanggulangan bencana. Namun sayangnya, pemahaman tentang pentingnya pemberian dukungan ini tidak sejalan dengan peningkatan pemahaman tentang apa itu dukungan psikososial. Dukungan psikososial yang diberikan pasca bencana bertujuan untuk membantu meringankan beban psikologis dan mencegah reaksi psikologis negatif yang muncul pasca bencana berkembang menjadi lebih buruk. Dukungan psikososial dapat mengembalikan individu, keluarga, masyarakat agar setelah peristiwa bencana terjadi, dapat berfungsi optimal dan memiliki ketangguhan menghadapi masalah sehingga menjadi produktif dan berdaya guna kembali. Disamping itu dukungan psikososial juga membantu para relawan untuk mengatasi masalah psikologis yang muncul akibat dari situasi yang dihadapi. Reaksi psikologis yang buruk tadi tidak hanya dialami oleh penyintas yang mengalami kejadian langsung. Para sukarelawan dan tenaga medis juga akan merasakan gejalanya. Mereka mengalami yang disebut dengan Secondary Trauma, yaitu gejala trauma yang dialami bukan karena mengalami kejadian secara langsung. Suatu gejala trauma yang umum dialami oleh orang-orang yang bekerja dengan penyintas suatu bencana. Inti dari dukungan psikososial adalah membantu proses pemulihan masyarakat dan meningkatkan ketangguhannya atau lebih dikenal dengan istilah resiliensi.
Karena pentingnya layanan psikososial dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat pasca bencana, maka pelaksanaan layanan psikososial sebagai respon terhadap bencana perlu dilakukan dengan cara yang tepat. Layanan psikososial tidak hanya mengajak penyintas bermain-main untuk menghilangkan traumanya, namun lebih dari itu layanan psikososial harus benar-benar menjadi layanan yang akan membantu sesuai kebutuhan penyintas. Untuk itu perlu adanya pemahaman yang sama tentang standar dan prinsip-prinsip dalam manajemen psikososial bencana. Hal ini diperlukan agar praktek intervensi psikososial dapat dilakukan secara profesional.
Kurangnya jumlah relawan dengan pengetahuan yang memadai di bidang intervensi psikososial sering membahayakan. Karena aspek psikososial pada dasarnya memerlukan keterampilan khusus terkait kompleksnya permasalahan psikososial yang timbul baik dari aspek individu maupun aspek masyakarat. Dalam banyak kasus, jika tidak ada intervensi yang dirancang dengan baik, banyak korban bencana akan mengalami depresi parah, gangguan kecemasan, gangguan stress pasca-trauma, dan gangguan emosi lainnya. Bahkan lebih dari dampak fisik dari bencana, dampak psikologis dapat menyebabkan penderitaan lebih panjang, mereka akan kehilangan semangat hidup, kemampuan sosial dan merusak nilai-nilai luhur yang mereka miliki.
Dampak psikologis dari bencana yang dirasakan oleh penyintas tidak akan sama, hal ini tergantung beberapa faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan resiko, seperti halnya:
1.      Tingkat keparahan.  Semakin parah bencana yang terjadi,  maka semakin buruk kemungkinan dampaknya.
2.      Jenis bencana.  Bencana yang terjadi karena manusia akan berdampak lebih parah daripada bencana karena alam. Perang, terorisme dan kerusuhan sosial akan berdampak lebih parah secara psikologis dari pada gempa, tsunami ataupun banjir.
3.      Jenis kelamin dan usia. Wanita (terutama ibu-ibu yang memiliki anak balita), anak usia lima sampai sepuluh tahun, dan orang-orang tua memiliki kerentanan lebih tinggi dari pada yang lain. Orang dengan daya tahan fisik yang lebih lemah, akan mengintepretasikan suatu ancaman lebih besar/mengerikan daripada seseorang dengan daya tahan tubuh yang lebih kuat. Sebaliknya pada bayi dan anak-anak dibawah 2 tahun, meski secara fisik mereka masih lemah, namun kondisi psikologis mereka sangat ditentukan oleh orang tua atau orang dewasa yang ada di dekat mereka karena kemampuan kognitif mereka dalam mengenali bahaya masih terbatas. Jika orang dewasa disekitar mereka bersikap tenang, maka mereka juga akan tenang.
4.      Kepribadian. Orang yang memiliki kepribadian matang, konsep diri yang positif dan reseliensi yang bagus akan lebih mampu menghadapi kondisi bencana dari pada yang tidak memiliki.
5.      Ketersediaan jaringan dan dukungan sosial. Dukungan keluarga, teman, dan masyarakat akan mampu mengurangi kemungkinan efek samping jangka panjang. Masyarakat yang memiliki hubungan keakraban yang cukup erat, dan saling peduli akan lebih mampu mengatasi masa-masa sulit daripada masyarakat yang individualis.
6.      Pengalaman sebelumnya. Seseorang yang berhasil mengatasi trauma di masa lalu, memiliki kecenderungan dapat mengatasi bencana berikutnya dengan lebih baik
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan resiko tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam memberikan intervensi psikososial kepada penyintas. Disamping itu agar intervensi psikososial tepat sasaran maka perlu dilakukan assesment tentang kondisi psikososial penyintas dan sumberdaya yang dimiliki. Assesment psikososial adalah proses untuk mengindentifikasi kondisi psikososial pada suatu kelompok/individu dan sumberdaya yang mereka miliki. Hasil assessment akan menjadi panduan dalam pelaksanaan program dukungan psikososial. Beberapa hal yang perlu diassest meliputi :
1)      Rasa aman. Terbangunnya rasa aman secara psikologis merupakan dasar intervensi lainnya. Rasa aman psikologis dapat terbangun jika beberapa syarat terpenuhi, misalnya penyintas mendapatkan makanan, minuman, kesehatan dan lokasi berlindung yang memadai, penyintas mengetahui atau minimal memiliki akses informasi mengenai keberadaan anggota keluarganya, dan penyintas memiliki media untuk mengekspresikan emosinya.
2)      Kondisi kesehatan mental. Kondisi kesehatan mental dapat diassesment melalui berbagai metode, misalnya dengan angket tentang stres pasca trauma atau menggunakan metode lain, misalnya melalui media debriefing. Pada anak-anak proses assesment bisa dilakukan dengan permainan, misalnya dengan menggunakan kartu yang berisikan gejala-gejala stress  atau dengan permainan, disela-sela permainan pekerja kemanusiaan  melontarkan gejala stress dan meminta anak-anak yang memiliki gejala tersebut untuk angkat tangan (misalnya, siapa yang masih sering mimpi banjir?). Anak-anak yang cukup sering angkat tangan ataupun ditunjuk oleh temannya, perlu mendapatkan perhatian. Kita perlu mencari informasi lebih lengkap tentang anak tersebut melalui orang tuanya ataupun orang dewasa lain yang mendampinginya. 
3)      Kearifan lokal. Setiap budaya pasti sudah mengembangkan aturan dan tradisi untuk melindungi komunitasnya, termasuk memandu anggotanya untuk pulih dari suatu bencana. Pekerja kemanusiaan perlu menggali informasi tentang ritual-ritual atau tradisi yang dimiliki, dan menggunakannya sebagai bagian dari intervensi psikososial.
Proses assesment harus dilakukan dengan kreatif, peka terhadap kondisi penyintas  dan peka terhadap  budaya lokal.  Pada masa tanggap darurat assesment dapat dilakukan bersamaan dengan pemberian bantuan bahan pokok. Saat membagi bantuan, sukarelawan psikososial dapat sambil bertanya kepada orang-orang ditempat itu tentang orang-orang kondisi kesehatan mental. Atau dapat dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan medis.


* Tulisan ini juga dimuat di Harian Pagi Kabar Madura edisi Rabu 22 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar