Selasa, 19 Maret 2013

Landasan Psikologis dibutuhkannya pelayanan bimbingan konseling (1)


Peserta didik sebagai individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan, memiliki kebutuhan dan dinamika dalam interaksi dengan lingkungannya. Di samping itu, peserta didik senantiasa mengalami berbagai perubahan dalam sikap dan tingkah lakunya. Proses perkembangan tidak selalu berlangsung secara linier (sesuai dengan arah yang diharapkan), tetapi bersifat fluktuatif dan bahkan terjadi diskontinuitas perkembangan. Dalam proses pendidikan, peserta didikpun tak jarang mengalami diskontinuitas perkembangan sehingga menimbulkan masalah-masalah psikologis. Beberapa aspek psikologis dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pribadi yang patut dipahami oleh konselor diantaranya adalah :

1.    Motif
a.    Sartain mengartikan motif sebagai “ A complex state wthin an organism that directs behavior toward a goal or incetive.” (suatu keadaan yang komplek dalam organism [individu] yang mengarahkan perilakunya kepada suatu tujuan atau insentip).
b.    J.P. Chaplin mengemukakan, bahwa motif adalah “ A state of tension within the in which arouses, maintains and direct behavior toward a goal.” (satu kekuatan dalam diri individu yang melahirkan, memelihara dan mengarahkan perilaku kepada suatu tujuan).

2.    Konflik dan Frustasi
a.    Koflik
Dalam kehidupan sehari – hari, kadang – kadang individu menghadapi beberapa macam motif yang saling betentangan. Dengan demikian individu berada dalam keadaan konflik psikis, yaitu suatu pertentangan batin, suatu kebingungan, suatu keragu – raguan, motif mana yang akan diambilnya. Motif – motif yang dihadapi oleh indivudu itu, mungkin semuanya positif atau mungkin negatif, dan mungkin juga campuran antara motif positif dengan negatif. 
b.    Frustasi
Frustasi, dapat diartikan sebagai kekecewaan dalam diri individu yang disebabkan olah tidak tercapainya keinginan. Pengertian lain dari frustasi adalah “ rasa kecewa yang mendalam, karena tujuan yang di kehendaki tak kunjung terlaksana.”

3.    Sikap
a.    Thursone berpendapat bahwa sikap merupakan suatu tingkatan afektif, baik bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis, seperti : simbol, prase, slogan, orang, lembaga, cita-cita dan gagasan.
b.    Sarlito Wirawan Sarwono mengemukakan, bahwa sikap adalah kesiapan seseorang bertindak terhadap hal-hal tertentu.

4.    Masalah Penyesuaian Diri Dan Kesehatan Mental
Kegiatan atau tingkah laku individu bagi hakikatnya merupakan cara pemenuhan. Banyak cara yang ditempuh individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik cara-cara yang wajar maupun yang tidak wajar, cara yang disadari maupun yang tidak disadari. Yang penting untuk dapat memenuhi kebutuhan ini, individu harus dapat menyesuaikan antar kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungan, disebut sebagai proses penyesuaian diri. Individu harus menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan baik lingkungan sekolah, rumah maupun masyarakat.
Proses penyesuaian diri ini menimbulkan berbagi masalah terutama bagi diri individu sendiri. Jika individu dapat berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya dan tanpa menimbulkan gangguan atau kerugian bagi lingkungannya, hal itu di sebut “ well adjusted ” atau penyesuaian dengan baik. Dan sebaliknya jika individu gagal dalam proses penyesuaian diri tersebut disebut “ maladjusted
a.    Penyesuaian Normal
Seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya serta sesuai dengan norma agama.
b.    Penyesuaian Menyimpang
Proses penyesuaian diri yang menyimpang merupakan upaya pemecahan masalah dengan cara-cara yang tidak wajar atau bertentangan dengan norma yang ada. Penyesuaian diri tersebut dapat ditandai dengan respon berikut
1)    Perasaan Rendah Diri
2)    Perasaan Tidak Mampu
3)    Perasaan Gagal
4)    Perasaan Bersalah
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar