Selasa, 12 Maret 2013

Hakikat Manusia Menurut Agama dan Peranan Agama dalam Bimbingan Konseling





A.   Hakikat Manusia Menurut Agama

Agama merupakan pedoman hidup bagi manusia dalam rangka mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia ini dan di akhirat kelak. Karena agama sebagai pedoman hidup, maka dalam semua kegiatan kehidupan manusia harus merujuk kepada nilai – nila agama. Manusia adalah makhluk yang mempunyai fitrah beragama, homo  religious,  yang berpotensi untuk dapat memahami dan mengamalkan nilai – nilai agama.

Hakikat manusia adalah makhluk Allah, yang berfungsi sebagi hamba dan khalifah-Nya. Sebagai hamba, manusia mempunyai tugas suci untuk beribadah kepada–Nya. Sebagai khalifah, manusia mempunyai kewajiban atau amanah untuk menciptakan dan menata kehidupan yang bermakna bagi kesejahteraan hidup bersama(  rahmatan lil’alamiin ).
Dalil yang menunjukkan bahwa  manusia mempunyai fitrah yang beragama adalah QS. Al A’raf : 172, yang berbunyi: “ Alastu birobbikum, qaaluu balaa syahidnaa = bukankah aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ya kami bersaksi bahwa Engkau Tuhan kami.” Fitrah beragama ini merupakan potensi yang arah perkembangannya tergantung pada kehidupan beragama lingkungan dimana orang (anak) itu hidup, terutama lingkungan keluarga. Apabila kondisi tersebut kondusif, dalam arti lingkungan itu memberikan ajaran, bimbingan dengan pemberian dorongan (motivasi) dan ketauladanan yang baik (uswah hasanah) dalam mengamalkan nilai-nilai agama, maka anak itu akan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur (berakhlaqulkarimah).


B.   Peranan Agama dalam Bimbingan Konseling

Berdasarkan pendapat para ahli dan temuan – temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa agama sangat berperan ( berkontribusi secara signifikan ) terhadap  pencerahan diri dan kesehatan mental individu. Bertitik tolak dari hal ini agama dalam layanan bimbingan dan konseling merupakan suatu keniscayaan yang harus ditumbuhkembangkan. Berikut akan dikemukakan pendapat para ahli tentang pengaruh agama terhadap kesehatan mental:
1.    William James (seorang filosof dah ahli ilmu jiwa Amerika ) berpendapat sebagai berikut.
a.    Tidak diragukan lagi bahwa terapi terbaik bagi keresahan adalah keimanan kepada Tuhan.
b.    Keimanan kepada Tuhan merupakan salah satu kekuatan yang harus terpenuhi untuk menopang seseorang dalam hidup ini.
c.    Antara kita dengan Tuhan terdapat suatu ikatan yang tidak terputus apa bila kita menundukkan diri dibawah pengarahan-Nya, maka semua cita-cita dan harapan kita akan tercapai.
d.    Gelombang lautan yang menggelora, sama sekali tidak membuat keruh ketenangan relung hati yang dalam dan tidak membuatnya resah. Demikian halnya dengan individu yang keimanannya mendalam, ketenangannya tidak akan terkeruhkan oleh gejolak superfisial yang sementara sifatnya. Sebab individu yang benar-benar religius akan terlindung dari kesalahan, selalu terjaga keseimbangannya dan selalu siap untuk menghadapi segala mala petaka yang terjadi. 
2.    Dadang Hawari Indries (psikiater ) mengemukakan, bahwa dari sejumlah penelitian para ahli bisa  disimpulkan (1) komitmen agama dapat mencegah dan melindungi seseorang dari penyakit, meningkatkan  kemampuan mengatasi penyakit, dan mempercepat pemulihan penyakit, (2) agama lebih bersifat protektif dari pada problem producing,dan (3) komitmen agama mempunyai hubungan signifikan dan positif dengan clinical benefit.   
3.    A.A. Briel (psikoanalisis) mengatakan bahwa “individu yang benar-benar religius tidak akan pernah menderita sakit jiwa.”
4.    Zakiah Daradjad mengemukakan bahwa “Apabila manusia ingin terhindar dari kegelisahan, kecemasan, dan ketegangan jiwa serta ingin hidup tenang, tentram, bahagia dan dapat membahagiakan orang lain, maka hendaklah manusia percaya kepada Tuhan dan hidup mengamalkan ajaran agama. Agama bukanlah dogma, tetapi agama adalah kebutuhan jiwa yang perlu dipenuhi.”    

Agar penerapan nilai-nilai agama dalam layanan bimbingan dan konseling berlangsung secara baik, maka konselor dipersyaratkan untuk memiliki pemahaman dan pengalaman agama yang dianutnya, dan menghormati agama lian yang berbeda dengan agama yang dianutnya.

1 komentar: